Search for:
Mengenal Lebih Dalam, Suku Anak Dalam
Mengenal Lebih Dalam, Suku Anak Dalam

Mengenal Lebih Dalam, Suku Anak Dalam

Ada lebih dari seribu suku bangsa ada di Indonesia yang tersebar dari ujung Sabang sampai Merauke, dan tidak sedikit orang yang belum mengetahui suku pedalaman yang terasing dan bahkan terancam punah di Indonesia.

Salah satunya adalah Suku Anak Dalam yang juga dikenal sebagai orang rimba yang berada di Provinsi Jambi. Suku asli jambi ini hidup secara nomaden atau berpindah-pindah di hutan belantara.

Berdasarkan data sensus yang dilakukan oleh KKI Warsi, populasi Suku Anak Dalam di Jambi mencapai 3.700 orang yang tersebar di 3 titik, diantaranya di Kabupaten Sarolangun, Merangin, Tebo. Dan untuk di Kabupaten Batanghari berjumlah kurang lebih 1.700 orang.

Orang Rimba Jambi ini masih memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga bertahan hidup. Disebutkan bahwa Orang Rimba masih berburu hewan liar di hutan untuk disantap. Selain itu, kegiatan sehari-hari warga Suku Anak Dalam adalah mencari buah-buahan klikwin juga hasil hutan lainnya seperti jernang, damar, jelutung, damar, manau, sialang hingga jenis-jenis makanan atau hasil hutan lainnya yang menjadi sumber kehidupan bagi Orang Rimba.

Seperti yang sudah disebutkan di atas Orang Rimba Jambi ini bermukim di dalam hutan di kawasan Provinsi Jambi dalam berkelompok-kelompok yang memang pasti akan nomaden jika ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal dunia. Hal ini dilakukan untuk menghadapi rasa kesedihan ditinggalkan orang yang tersayang. Karena hal ini juga lah mereka terancam punah, seperti yang kita tau saat ini sudah semakin banyak hutan diratakan dan dijadikan kawasan industri dan pemukiman.

Sejak kawasan pemukiman mereka diambil alih fungsi untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit atau industri lainnya dengan izin konsensi Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan dengan pola inti-plasma, maka kehidupan warga Suku Anak Dalam mengalami banyak perubahan. Tidak hanya kesulitan memiliki tempat tinggal yang baru, namun juga kesulitan untuk bertahan hidup karena hasil hutan yang dijadikan mata pencarian utama warga Suku Anak Dalam kini sudah semakin sangat sulit untuk ditemukan.

Dalam hal ini kita hanya bisa berharap bahwa semua pihak yang sudah aktif berperan ini mendapat dukungan dan bisa diajak bersinergi. Untuk bisa memberikan bantuan kepada situs judi slot terbaik dan terpercaya no 1 mereka secara menyeluruh, dibutuhkan peran semua pihak, termasuk pemerintah, TNI Polri, masyarakat sekitar, dan semua organisasi yang ada. Jangan sampai nantinya ada lagi lagi keributan antar kelompok Orang Rimba hanya karena penyaluran bantuan yang tidak merata. Masih banyak persoalan mereka yang perlu diselesaikan, jangan sampai niat baik malah menambah masalah baru.

Suku Istimewa di Tanah Papua, Suku Korowai dan Kombai
Suku Istimewa di Tanah Papua, Suku Korowai dan Kombai

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak suku bangsa. Tercatat Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, atau lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air. Dengan suku Jawa yang menjadi kelompok terbesar di Indonesia dengan jumlah yang mencapai 41% dari total populasi.

Suku Istimewa di Tanah Papua, Suku Korowai dan Kombai

Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa di luar sana masih banyak suka bangsa yang jauh bahkan tidak mengenal peradaban modern seperti yang saat ini kita rasakan dengan segala kemudahan dalam kehidupan, salah satunya dengan menggunakan internet untuk dapat meng-akses segala hal termasuk di dalamnya akses situs slot online terpercaya yang tentu saja menyuguhkan jackpot terbesar.

Salah satu suku di Indonesia yang masih jauh dari peradaban atau bisa dibilang terasing adalah Suku Korowai dan Kombai di Papua. Suku ini sendiri saja baru ditemukan 35 tahun yang lalu, yang mana artinya sebelum tahun 1970 suku ini sama sekali tidak mengenal dunia luar selain yang dari kelompoknya sendiri. Suku yang terletak di atas tanah hutan berawa di Papua ini bahkan tidak mengenal siapa Presiden di negara yang mereka tinggali ini.

Suku yang terasing ini hidup di Rumah Tinggi atau rumah pohon, disebut Rumah Tinggi karena beberapa rumah yang berada di tanah Papua ini bisa mencapai ketinggian 50 meter dari permukaan tanah. Suku ini sengaja membangun rumah setinggi  untuk menghindari ancaman serangga dan perang antar suku yang dahulu bahkan sampai sekarang kerap terjadi. Hal lain yang istimewa dari suku ini adalah, mereka merupakan salah satu suku papua yang tidak menggunakan Koteka dalam kegiatan sehari-hari. Tidak seperti kebanyakan suku pedalaman di tanah Papua lainnya yang menutupi kelamin terutama untuk para kaum lelaki dengan menggunakan koteka. Untuk Suku Korowai ini sendiri mereka memasukkan secacara paksa penisnya ke dalam kantung zakar dan dibalut ketat dengan sejenis daun yang biasa ada di hutan pada ujung kantung zakarnya. Sementara untuk suku Kombai sendiri, mereka menggunakan koteka yang cukup tidak umum yakni terbuat dari paruh burung besar.

Sebagai tambahan informasi, di kedua suku ini kanibalisme masih menjadi hal yang umum di dalam kehidupan sehari-hari. Kanibalisme di mata suku Kombai merupakan salah satu bentuk hukuman kesukuan, yang berlaku untuk mereka yang terdakwa atau teridentifikasi sebagai khakhua atau penyihir, yang nantinya akan disiksa, dieksekusi, dan dimakan beramai-ramai. Namun, dalam proses ini wanita hamil dan anak-anak tidak dilibatkan menjadi kanibal.

Suku ini masih percaya bahwa sihir diyakini menjadi penyebab perang antar suku. Maka dari itu kanibalisme dianggap penting dalam dunia gaib, mirip kepercayaan untuk Korowai dan mungkin juga dilakukan sebagai bagian dari sistem peradilan pidana mereka.

Suku Asmat , Suku Titisan Dewa di Bumi Papua
Suku Asmat , Suku Titisan Dewa di Bumi Papua

Suku Asmat – Pada jaman dahulu kala , ada seorang Dewa bernama Fumeripitsy yang turun ke bumi. Ia menjelajah bumi dan memulai petualangannya dari ufuk barat matahari terbenam. Dalam petualangannya, Sang Dewa harus berhadapan dengan seekor buaya raksasa dan mengalahkannya. Walaupun Sang Dewa berhasil mengalahkan buaya raksasa tersebut , namun Ia terkena luka yang sangat parah dan terdampar di sebuah tepi sungai.

 

Dengan kesakitan sang Dewa berusaha bertahan hingga akhirnya ia bertemu seekor burung Flaminggo yang berhati mulia dan merawat Sang Dewa hingga pulih dari lukanya. Setelah sembuh, sang Dewa tinggal di wilayah tersebut dan membuat sebuah rumah serta mengukir dua buah patung yang sangat indah.

 

Sang Dewa juga membuat sebuah genderang yang sangat nyaring bunyinya untuk mengiringinya menari tanpa henti. Gerakan sang Dewa sungguh Slot Gacor Hari Ini dahsyat hingga membuat kedua patung yang diukirnya menjadi hidup. Tak lama setelahnya , kedua patung itu ikut menari dan bergerak mengikuti sang Dewa. Kedua patung tersebut adalah dipercaya sebagai pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang suku Asmat.

 

Penggalan kisah mitologi di atas merupakan sebuah kepercayaan yang dimiliki oleh Suku Asmat, salah satu suku yang terbesar di Papua. Mitos ini yang membuat suku Asmat mermpercayai bahwa mereka merupakan titisan dewa hingga saat ini.

 

Tak hanya di Indonesia , namun suku Asmat juga sangat terkenal di dunia. Tak heran jika banyak peneliti-peneliti dari seluruh penjuru dunia sering berkunjung ke kampung suku Asmat. Mereka umumnya tertarik untuk mempelajari kehidupan suku Asmat, sistem kepercayaannya, serta adat istiadat yang begitu unik dari suku Asmat.

Suku Asmat , Suku Titisan Dewa di Bumi Papua

 

Suku Asmat terbagi menjadi dua , yaitu suku yang tinggal di pesisir pantai dan suku Asmat yang tinggal di wilayah pedalaman. Pola hidup, cara berpikir, struktur sosial dan keseharian kedua kategori Asmat ini sangatlah berbeda. Contoh , dari sisi mata pencaharian mereka misalnya, suku Asmat yang berada di wilayah pedalaman, biasanya mempunyai pekerjaan sebagai pemburu dan petani kebun, sedangkan mereka yang tinggal di pesisir lebih memilih menjadi nelayan sebagai mata pencaharian. Perbedaan kedua populasi ini disebabkan juga oleh kondisi wilayah tempat mereka tinggal dan besarnya pengaruh masyarakat pendatang yang umumnya lebih terbuka daripada kebudayaan Asmat sendiri.

Walaupun kedua populasi ini memiliki perbedaan , namun keduanya memiliki karakteristik fisik yang sama. uku Asmat memiliki rata-rata ketinggian sekitar 172 cm untuk pria dan 162 cm untuk wanita. Kulit mereka umumnya hitam dengan rambut yang keriting. Ciri fisik ini disebabkan karena suku Asmat masih satu keturunan dengan warga Polynesia.

Suku Asmat sangat dikenal sebagai pengukir handal dan diakui secara internasional. Ukiran asmat sangat banyak jenisnya dan beragam. Biasanya ukiran tersebut bercerita tentang sesuatu, seperti kisah leluhur, kehidupan sehari-hari dan rasa cinta mereka terhadap alam. Keunikan ukirannya inilah yang membuat nama suku Asmat begitu mendunia hingga kini.

Bicara soal tradisi , ada salah satu tradisi dari suku Asmat yang sangat menarik yaitu rumah Bujang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Jew. Rumah ini adalah bagian penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan suku Asmat. Jew menjadi rumah utama tempat mengawali segala kegiatan suku Asmat di tiap desa yang ada. Begitu pentingnya, hingga dalam mendirikan Jew pun ada upacara khusus yang harus dilakukan. Jew, hanya ditinggali oleh pria-pria yang belum menikah. Sesekali kaum wanita boleh masuk tetapi harus dalam situasi pertemuan besar.

Suku Mante : Sejarah , Ciri Ciri Dan Asal Usulnya
Suku Mante : Sejarah , Ciri Ciri Dan Asal Usulnya

Suku Mante merupakan salah satu masyarakat adat yang tinggal di pedalaman Aceh. Suku yang terkenal misterius dan menjadi pembicaraan hangat di tahun 2020 lalu ketika beredar sebuah video sejumlah pengendara motorcross secara tidak sengaja bertemu dengan sesosok makhluk asing tanpa busana di tengah hutan. Sosok tersebut diduga adalah golongan Suku Mante.

Suku Mante : Sejarah , Ciri Ciri Dan Asal Usulnya

Menurut cerita rakyat Aceh , Suku Mante adalah orang-orang terawal yang membentuk masyarakat Aceh saat ini. Untuk lebih jelasnya yuk langsung saja kita simak informasinya di bawah ini.

Tentang Suku Mante

Suku Mante adalah salah satu suku tua atau suku etnik yang disebut-sebut paling awal dalam legenda rakyat Aceh. Suku yang juga dikenal dengan sebutan Suku Manti atau Mantir diyakini sebagai salah satu etnis tua yang mendiami Aceh. Selain suku Mante , ada etnis lainnya yaitu Suku Sakai , Jakun, Lanun, Senoi, dan juga Semang.

Suku Mante diperkirakan berasal dari salah satu bagian dari rumpun bangsa Melayu Proto, dan menetap di kawasan Aceh Besar. Melayu Proto merupakan gelombang pertama dari dua gelombang migrasi yang diperkirakan terjadi di masa lalu di Nusantara. Hal ini yang membuat bahasa Austronesia tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Toraja, Sasak, Batak, Nias, Gayo, dan sebagainya. Namun ini masih sebatas teori yang disampaikan oleh para ilmuwan.

Suku Mante merupakan salah satu cikal bakal dari Kawon Lhee Reutoih (suku tiga ratus) bersama dengan Suku Batak. Orang Mante kemungkinan besar sudah punah dikarenakan berbaur dengan suku lainnya yang tiba setelahnya. Selain dipercaya sebagai salah satu suku yang berasal dari Melayu Proto , ada yang menyebut jika Suku Mante merupakan salah satu suku yang berhubungan dengan bangsa Funisia di Babilonia atau Dravida. Namun lagi lagi ini masih sebatas dugaan yang masih belum pasti kebenarannya.

Ciri Ciri Suku Mante

Ciri fisik orang Mante  yaitu memiliki postur tubuh yang pendek atau kerdil. Tingginya diperkirakan hanya sekitar 1 meter saja. Sebagian dari mereka bertelanjang dan memiliki rambut yang terurai panjang.

Kulit Orang Mante memiliki jenis warna kulit cerah. Wajahnya persegi dan memiliki dahi yang sempit. Sementara itu tubuhnya kasar dan berotot. Hidung Suku Mante pesek, dan kedua alis matanya bertemu di pangkal hidung.

Asal Usul Suku Mante Menurut Para Sejarawan

Husaini Ibrahim , Sejarawan asal Aceh mengatakan jika Suku Mante adalah salah satu suku Melayu Tua (Proto Melayu) yang diperkirakan sudah ada di dataran Aceh sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi yang membuatnya dipercaya sebagai suku asal Aceh.

Beberapa abad setelahnya , muncul Suku Melayu Muda (Deutero Melayu) yang diperkirakan hadir di 1.500 tahun sebelum Masehi. Kedatangan http://www.santafeforward.com/ Suku Melayu Muda ke Aceh ini diperkirakan melalui Thailand dan kemudian singgah di Aceh Besar.

Suku Mante dianggap sebagai suku terasing karena tinggal di pedalaman hutan Aceh. Suku ini mirip dengan suku terasing lainnya di Nusantara seperti Suku Laut dan juga Suku Bajong. Namun yang membedakannya adalah Suku Mante hidup di darat (di gunung dan hutan), sementara suku lainnya biasa hidup di laut sebagai manusia perahu.

Ibrahim menambahkan bahwa Suku Mante hidup di sekitar Aceh Besar, seperti di kawasan perbatasan Jantho, hingga Tangse, Kabupaten Pidie. Kehidupan suku Mante juga dilakukan nomaden alias berpindah pindah sehingga tidak heran jika suku ini juga ditemukan di daerah lain selain Aceh.

Ketika datang masa Hindu di Aceh, Suku Mante diperkirakan berpindah ke kawasan lain. Mereka masuk ke pedalaman hutam Aceh hingga mengarah ke Aceh Tamiang dan kawasan Gayo. Ketika datang masa Islam di Nusantara , mereka juga berpindah lagi karena tidak mau diislamkan pada masa itu.

Suku Mante diperkirakan memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi sehari-hari dengan sesamanya. Ada yang mengatakan jika sepasang orang mante pernah tertangkap oleh prajurit kerajaan Aceh antara tahun 1.514 sampai 1.530. Kedua orang Mante ini tidak mau berbicara , makan maupun minum yang membuat mereka akhirnya meninggal.

Sang Raja merasa kesal atas kejadian tersebut dan mulai sejak itu seluruh warga kerajaan dilarang untuk memba warga Mante bertemu dengan dunia di luar hutan.